Setapak demi setapak, kulalui anak tangga yang berjejer rapi di kawasan situs Ratu Boko. Lelah sedikit terkikis kala hamparan gedung dan pemandangan di salah satu sudut kota Jogja menyapa mata.
Ya,
tepat di kiriku, saat itu, atau tepatnya di sebelah utara situs purbakala ini Merapi nampak kokoh dalam singgasananya. Dengan balutan hijaunya pohon yang menyelimutinya, dan semu putihnya kabut hampir menutupi keindahannya.
Sore hari, namun matahari sudah menempatkan dirinya di ufuk barat. Bersiap menandai sore itu dengan malam. Cahaya sore di hari Kamis itu juga nampak masih menyisakan sinar istana Jonggrang. Candi Prambanan di tengah hamparan gedung dan rumah itupun juga terlihat catchy berdiri di sudut perbatasan Sleman-Jogja dengan Klaten-Jateng.
Hiruk pikuk suara klakson, deruman mesin kendaraan, samar terdengar dari tempatku berdiri. Entah apa lagi, hingga akhirnya lirikan mataku berpaling pada sebuah kolam yang nampak begitu elegan nan kuno.
Kesekian kalinya aku berada di situs kuno ini, sekilas masih nampak sama. Tapi tetap ada yang berbeda. Sepintas ingatan menerawang pada memori lalu. Ketika sekumpulan mahasiswa, dan ada aku di sana, duduk, bercengkrama, canda dan tawa terpecah membawaku seakan kembali pada masa itu. Ada secuil kenangan manis di sudut kolam pemandian ini.
Lakuku masih berlanjut. Setapak berhias konblok itupun membawaku pada tampak muka sebuah reruntuhan situs candi. Aku hampir memasukinya, setapak jalan itupun makin menampakkan pesona epiknya.
Bebatuan kuno yang tersusun rapi sedikit semrawut, seolah siap menyambutku. Masih ada anak tangga lagi yang harus kupijak dan kulalui. Jaraknya pun makin meninggi, sadar bahwa aku tak berpostur ram
ping dan tinggi semampai, kakikupun tak jenjang. Jadi agaknya lelah mulai menggrogotiku dengan nafas terengah-engah.
Teriknya cahaya sore pun makin terkikis oleh senja. Orang-orang di sekelilingku, bersama kamera-kamera canggihnya, mulai berlarian dan memadati lapangan di balik candi ini. Merasakan kembali berpijak di tengah bangunan yang umurnya berabad-abad. Kurasa ada sesuatu yang ganjal, aku berasa bak model tak digubris. Sebuah bisikan menyeru ditelingaku dengan picik.
“Oi, minggir. Modelnya tumpukan batu-batu ini. Bukan kamu! Menyingkirlah!”
Ya sudahlah, aku menuruni anak tangga kecil dan memutuskan untuk duduk manis di tengah hamparan rumput di balik Candi. Matahari dan cahayanya pun makin turun perlahan. Dengan cantik dan eksotiknya, ekor-ekor cahayanya seolah menggoda para pemburu foto yang siap menembakkan shutter kameranya. Sisa-sisa cahayanya juga gemulai menjilati hitamnya batu-batu candi.
Bersiap membidik, dan mereka pun berkerumun seperti sedang mengintip putri yang mandi di balik kolam pemandian. Aku duduk manis, dengan menengadahkan Blackberry Gemini ku ke Candi yang berdiri angkuh yang tengah dijilati surya senja. “Cekrek!”..
Setidaknya akupun dapat mengabadikannya. Meski hanya dengan sekotak kecil kamera smartphone ku, tapi hasilnya tak membuatku dirundung gengsi. Kupikir lima jepretan cukuplah.
Keramaian para fotografer inipun membuatku sedikit iri dengan kamera canggih mereka. Tapi sepertinya itu tak membuatku frustasi. Sekumpulan anak-anak tengah menatap jauh ke awang-awang. Kuperhatikan seksama di langit-langit yang berangsur semu. Senja mulai digerogoti gelapnya atmosfer malam.
Layang-layang berekor panjang, mirip ikan lele terbang angkuh di atas sana. Seolah terbang dengan pesona moleknya nun jauh di sana. Sekejap aku pun seolah diajak kembali bernostalgia dengan ketengilanku di masa kecil. Bersama anak laki-laki, lebih suka main layangan, perang-perangan, aku hampiri mereka.
Seorang anak kecil yang kulihat seperti si Bolang di sebuah stasiun TV, menyambut sapaanku dengan malu-malu. “Aku pinjem, ya, layangannya,” rayuku. Tidak banyak cakap, sehelai benang tipis itu pun diserahterimakan padaku.
Tatapan cuek, dan seolah aku adalah anak-anak yang bodo’ amat dengan omongan orang tua. Kutarik ulur layangan yang terbang jauh di langit Candi Ratu Boko itu. Haripun makin larut, lalu kuputuskan untuk mencoba turunkan layangan itu. Menjadi hiburan yang unik buatku, berarti, karena sejenak rasa penatku berubah menjadi sesuatu yang menyenangkan.
Meski sejenak, tapi rasanya seperti merasakan ribuan perjalanan. Ingin bisa berada di tempat yang menyenangkan lainnya. Enggak sabar menantinya… The Trip May, 24th 2012

SaaT nonTon fiLm ini, dGn seTingan peRang di IraQ pada masa iNvasi AmeriKa dibaWh pemeRintHan pResiden 























